Salam sejahtera bagi seluruh jemaat Tuhan yang dikasihi oleh Tuhan.
Pada kesempatan ini kita kembali dapat bersama-sama beribadah kepada Tuhan, yaitu dalam Kebaktian Pendalaman Alkitab dan Perjamuan Kudus.
Pada kesempatan ini kita akan membuka Alkitab kita, dari Kitab Rut pasal 4 ayat 13. Mari kita bersama-sama mendengarkan firman Tuhan dari Kitab Rut pasal 4 ayat 13:
"Lalu Boas mengambil Rut, dan perempuan itu menjadi isterinya, dan dihampirinyalah dia. Maka atas karunia TUHAN perempuan itu mengandung, lalu melahirkan seorang anak laki-laki."
Iya, puji Tuhan.
Ini adalah studi pendalaman Alkitab. Bahkan dalam ibadah penggembalaan, kita sudah mendengarkan firman bagaimana kisah daripada seorang Rut yang berasal dari bangsa kafir. Dan di ayat 13 ini, dalam kitab Rut pasal 4, dikatakan: "Lalu Boas mengambil Rut, perempuan itu menjadi isterinya dan menghampiri dia. Maka atas karunia TUHAN perempuan itu mengandung, lalu melahirkan seorang anak laki-laki."
Jadi, Rut ini asal usulnya dari bangsa Moab, bangsa kafir, bangsa yang tadinya tidak mengenal Allah. Ya, tadinya tidak mengenal Allah, tidak punya Allah yang benar. Tetapi kemudian dalam perjalanan hidupnya, setelah dia menikah dengan anaknya Naomi, sekalipun suaminya kemudian mati, dia mengikut Naomi ke Betlehem. Bukannya dia kecewa. Waktu itu sebagai manusia, tentu suaminya mati. Tidak ada yang diharapkan, tidak ada anak laki-laki lagi yang diharapkan dari anak Naomi untuk kemudian menjadi suaminya. Tetapi kita melihat Rut ini kemudian dia percaya kepada Allah.
Nah, kadang-kadang ada orang yang sudah mengenal Tuhan, ada ujian sedikit, lalu tinggalkan Tuhan. Ujian ekonomi, ujian kesehatan, ujian dalam pekerjaan, dalam pelayanan, kemudian bisa kecewa. Rata-rata orang kecewa karena berharap pada manusia. Kalau orang berharap kepada Tuhan, kita punya Allah, kita punya pengharapan.
Kita sudah dengar beberapa kali dalam Efesus 2. Karena Kristus, kita menjadi masuk dalam bangsa Israel rohani, kita punya pengharapan. Sebab tanpa Kristus, kita tanpa pengharapan. Dalam Efesus 2, Saudara, mari kita ulang kembali membaca ayat tersebut, ayat 12:
"bahwa waktu itu kamu tanpa Kristus, tidak termasuk kewargaan Israel dan tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan, tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia."
Jadi tanpa Allah, tanpa pengharapan. Tapi Rut tidak seperti itu lagi. Kalau dulu memang tidak percaya kepada Tuhan, dewa yang disembah adalah berhala-berhala di Moab, tetapi kini dia punya Tuhan. Dia punya pengharapan sekalipun dia dari bangsa kafir, sudah percaya Tuhan sekalipun suaminya mati. Suaminya mati, dia punya pengharapan.
Nah, makanya waktu Naomi mengatakan kepada Rut: "Pulanglah, anakku, pergilah, sebab sudah terlalu tua aku untuk bersuami. Seandainya pikirku ada harapan bagiku, sekalipun malam ini aku bersuami, bahkan sekalipun aku masih melahirkan anak laki-laki, masakan kamu menanti sampai mereka dewasa?" Coba di ayat 12 Rut pasal 1 ayat 12 sampai dengan ayat 16:
"Pulanglah, anak-anakku, pergilah, sebab sudah terlalu tua aku untuk bersuami. Seandainya pikirku ada harapan bagiku, dan sekalipun malam ini aku bersuami, bahkan sekalipun aku masih melahirkan anak laki-laki, masakan kamu menanti sampai mereka dewasa? Masakan karena itu kamu harus menahan diri dan tidak bersuami? Janganlah kiranya demikian, anak-anakku. Bukankah jauh lebih pahit yang aku alami daripada kamu? Sebab tangan TUHAN teracung terhadap aku."
Jadi yang dialami oleh Naomi adalah pahit getir setelah meninggalkan Betlehem, meninggalkan penggembalaan.
Lalu menangislah mereka dengan suara keras. Orpa mencium mertuanya itu minta diri, tetapi Rut tetap berpaut padanya. Ayat 15 dan 16:
Berkatalah Naomi: ”Telah pulang iparmu kepada bangsanya dan kepada para allahnya; pulanglah mengikuti iparmu itu.” Tetapi kata Rut: ”Jangan desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam; bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku.”
Rut tidak mau meninggalkan Naomi. Rut tidak mau berpisah dengan Naomi sekalipun anak Naomi yang menjadi suami Rut sudah mati. Dia tidak mau meninggalkan Naomi, bahkan ikut Naomi dengan mengatakan: "Di mana engkau mati, aku pun mati di sana, dan di sanalah aku dikuburkan."
Oh, ini hubungan baik antara Rut sebagai menantu dengan mertuanya Naomi yang sudah janda. Begitu baik hubungan mereka. Ada kalanya sekarang, saudara-saudaraku, masih lengkap punya anak dan menantu, tapi terjadi permasalahan antara anak dan menantu. Bahkan ada yang sudah... kami dengar, istilahnya "panirang-nirangan" dalam bahasa Batak, artinya mau bercerai tapi masih menyatu. Padahal apa yang dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan oleh manusia. Nikah sekali menikah, tidak boleh diceraikan oleh manusia. Apa yang dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan oleh manusia.
Jadi Rut, sekalipun dia dari bangsa kafir dan dia sudah mengenal Tuhan, berkata: "Tuhan Allahmulah Allahku. Di mana engkau mati, di situ juga aku mati. Bangsamu, bangsaku. Allahmu, Allahku. Di sanalah aku dikuburkan. Beginilah kiranya TUHAN menghukum aku, bahkan lebih lagi daripada itu, jikalau sesuatu apa pun memisahkan aku dari engkau, selain daripada maut!" Tidak ada yang memisahkan selain daripada maut. Apalagi antara suami istri, antara menantu dengan mertua saja, Rut mengatakan tidak ada yang memisahkan aku dengan engkau selain daripada maut. Apalagi suami istri yang saat diberkati dalam pemberkatan nikah, berjanji: "Apakah engkau mengasihi istri yang kau pegang tangannya menjadi istrimu?" Dan berjanji, tidak ada yang bisa memisahkan selain dari kematian. Nah, kalau sudah kematian, itu adalah urusan dari Tuhan.
Kapan dipanggil oleh Tuhan, sehingga Rut ini kemudian dia mengikut Naomi ke Betlehem. Ikut Naomi ke Betlehem sama dengan mengikut penggembalaan. Betlehem artinya "rumah roti", roti firman Allah. Jadi, Saudara, kalau ada orang tua saudara yang ikut tergembala, mari ikut penggembalaan. Mungkin suami dulu tergembala, ikut istri, ikut anak, ikut menantu. Mari, saudara-saudaraku, anak-anak kita semua, kita biar tergembala. Dalam penggembalaan itu ada pemeliharaan Tuhan, ada jaminan Tuhan. Bahkan dalam hidup di dunia ini sampai hidup kekal nanti.
Bahkan seperti Raja Daud mengatakan: "Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku." Sekalipun aku melewati lembah kelam, aku tidak takut. Kebajikan dan kemurahan belaka akan menyertai aku. Yang tergembala tinggal menunggu kebajikan Tuhan, kemurahan Tuhan. Kalau saudara tidak tergembala, jangan harap ada kemurahan Tuhan. Kalau kita meninggalkan penggembalaan... Tapi dia kalau tergembala, seperti Raja Daud, dia tergembala mulai dari domba-dombanya dua tiga ekor, terangkat jadi raja. Ada pengangkatan dari Tuhan.
Dalam Mazmur 23, coba. Mazmur 23 ayat 1, kemudian ditambah ayat sampai 3, kemudian di ayat 6:
"Mazmur Daud. TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau." Iya, bisa berbaring artinya tenang. "Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya. ... Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa."
Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku. Jadi ada kebajikan, perbuatan baik dari Tuhan, kebaikan dari Tuhan. Banyak kebaikan yang kita terima. Makanya kita nyanyi: "Allah baik bagiku, Dia begitu baik bagiku." Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku. Anak-anak kita tergembala, kita orang tua tergembala, ada kebajikan-kebaikan Tuhan, kemurahan Tuhan. Kemurahan Tuhan akan mengikuti kita. Kemurahan Tuhan kita bisa hidup, kemurahan Tuhan kita bisa beribadah melayani Tuhan. Kemurahan Tuhan, mungkin anak-anak ada yang bisa sekolah kuliah, mungkin tidak bisa kuliah tapi bisa kerja. Coba bayangkan, kalau ada anak-anak tidak mau sekolah, ada biaya dari orang tua tidak mau sekolah, kerja pun tidak mau, wah bisa pusing orang tua.
Rata-rata orang tua menghendaki anaknya minimal sama dengan orang tua, bahkan lebih dari orang tua. Kalau anaknya sekolah SD, minimal lebih dari SD itu anaknya. Itu kerinduan orang tua. Jangankan kita, Tuhan mau kita bahkan menjadi sama dengan Dia, serupa dengan Dia. Dalam Filipi 3 ayat 21, coba:
"Filipi 3 ayat 21: yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga serupa dengan tubuh-Nya yang mulia, menurut kuasa-Nya yang dapat menaklukkan segala sesuatu kepada diri-Nya."
Tuhan mau supaya kita serupa dengan Dia. Maksudnya serupa dengan gambar-Nya. Mau menjadi serupa dengan Tuhan dalam kemuliaan. Ini Tuhan saja begitu, apalagi kita. Kalau orang tuanya berhasil berdagang, anaknya berdagang maunya lebih berhasil dari dia. Itu menjadi kerinduan orang tua. Tuhan saja begitu, mau mengubah kita menjadi serupa dengan Dia dalam kemuliaan yang kekal.
Itu sebabnya kita bersyukur kalau kita tergembala. Tinggal menunggu kebajikan Tuhan, kemurahan. Yang penting setia ibadah, nanti kemurahan akan mengikuti. Yang penting setia ibadah. Kalau yang sekolah, sekolah rajin, setia ibadah dalam penggembalaan. Orang tua yang sudah kerja, mungkin ada yang sudah tua tidak bisa kerja, setia dalam ibadah. Masih sepanjang masih bisa berusaha, bisa beribadah. Sebab kalau satu waktu kita tidak bisa berusaha beribadah, satu waktu tidak bisa ibadah lagi, mau bagaimana? Makanya kesempatan kita bisa beribadah, mari kita usahakan beribadah kepada Tuhan. Baik dalam keluarga kita, suami, istri, anak-anak kita, kita bawa kepada Tuhan. Jika engkau percaya, seisi rumahmu akan diselamatkan.
Coba zaman Nuh, Nuh sekeluarga selamat. Merekalah satu keluarga, yang lain tidak taat. Hanya yang taat. Maka taat penggembalaan. Dalam Yohanes pasal 10, dalam Yohanes pasal 10 ayat 27 dan 28 dikatakan:
"Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku." Artinya mendengarkan firman penggembalaan. "Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka."
Tuhan memberikan hidup kekal. Bukan hidup sementara saja, hidup kekal. Hidup di dunia ini sifatnya sementara, nanti ada mati. Sementara di dunia ini berapa tahun terangkat, kecuali yang masih hidup sampai Tuhan datang kali kedua. Tapi hidup kekal dijanjikan Tuhan. Kalau kita tergembala, kita mengikut Tuhan: "Aku memberikan hidup yang kekal kepadanya dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku."
Berada di tangan Tuhan. Kalau di tangan manusia, waktu gempa ada pengalaman keluarga-keluarga, bencana alam, bisa bersatu, tahu-tahu datang bencana alam terpisah. Ada yang mati, ada yang... biarpun pegangan erat-erat, tidak bisa kuat. Kalau sudah tertimpa bangunan, banjir bandang, tidak bisa kuat. Tapi kalau tangan Tuhan yang memegang kita, kita berada di tangan Tuhan, ada jaminan Tuhan. Tidak ada yang merebut kita. Haleluya! Dari tangan-Nya.
Kalau berada di tangan Tuhan, coba saudara baca Amsal 3 ayat 16:
"Umur panjang ada di tangan kanannya, di tangan kirinya kekayaan dan kehormatan."
Umur panjang ada di tangan kanan-Nya. Umur panjang bukan cuma hidup di dunia ini, paling-paling 100 tahun, 120 tahun sudah hebat itu. Ada yang 80, ada yang baru berapa tahun sudah meninggal, tapi umur panjang sampai hidup kekal. Di tangan kiri-Nya kekayaan dan kehormatan. Jadi tidak usah cari-cari hormat, harus orang menghormati kita, kalau tidak dihormati kita marah. Kalau kami hamba Tuhan, kami tahu, ada banyak juga orang menghormati, jemaat menghormati, tapi kita tidak perlu cari-cari hormat. Lalu kalau tidak dihormati, lalu kita marah, tidak perlu seperti itu.
Saudaraku yang dikasihi oleh Tuhan, makanya di tangan kiri-Nya kekayaan dan kehormatan. Justru yang penting kita mengagungkan Tuhan, tergembala, kebajikan dan kemurahan akan mengikuti kita. Termasuk Daud. Nah, salah satu contoh Daud, bagaimana Daud sebenarnya begitu banyak menghadapi tantangan. Daud menghadapi banyak tantangan. Bahkan kalau kita melihat, orang-orang membenci Daud lebih, bahkan dikatakan tanpa alasan, lebih banyak dari rambut di kepala. Coba dalam Mazmur 69 ayat 5:
"Orang-orang yang membenci aku tanpa alasan, lebih banyak daripada rambut di kepalaku; terlalu besar jumlah orang-orang yang hendak membinasakan aku, yang memusuhi aku tanpa sebab; aku dipaksa untuk mengembalikan apa yang tidak kurampas."
Nah, ini yang dialami oleh Daud. Jadi tidak heran kalau ada orang membenci saudara, di Alkitab sudah ada. Tentu ada orang mengasihi, ada yang membenci. Bahkan Daud mengatakan orang-orang membenci aku tanpa alasan, lebih banyak dari rambut di kepalaku. Terlalu besar jumlah orang hendak membinasakan aku, yang memusuhi aku tanpa sebab. Aku dipaksa untuk mengembalikan apa yang tidak kurampas. Disuruh kembalikan lagi yang tidak dirampas, kurang ajar itu orang, mau mengembalikan padahal tidak ada yang dirampas oleh Daud.
Ini yang dialami oleh Daud. Bahkan pernah, Saul sebagai atasannya, sebagai raja di tengah-tengah bangsa Israel, kemudian kita melihat dia membenci Daud. Daud berhasil, bukan karena gagal. Kalau orang karena gagal, bawahannya tidak bisa berhasil, suruh kerjakan tidak ada yang berhasil, tidak punya pengetahuan, tidak punya ketaatan, mungkin wajar tidak dipakai. Tapi ini Daud adalah orang berhasil. Bahkan berperang lebih banyak yang dikalahkan daripada yang dikalahkan Saul. Tapi kemudian Saul benci kepada Daud. Jadi kalau ada atasan saudara membenci, sudah pernah dialami oleh Daud. Mungkin tidak senang bukan karena saudara tidak taat. Itu adalah kasih karunia. Kalau ada orang menderita karena berbuat baik, menderita karena ibadah pelayanan, itu adalah kasih karunia